Chat WhatsApp

Blog · Panduan

Apa Itu Press Release, dan Kapan Bisnismu Perlu Membuatnya?

· Partnermedia.id

Bisnismu baru saja menjalin kerja sama dengan mitra besar, membuka cabang kedua, atau merilis hasil survei kecil tentang pelanggan. Kabarnya penting buat kamu. Lalu, bagaimana caranya supaya orang di luar lingkaran pelanggan juga tahu? Salah satu jalannya lewat press release.

Press release itu apa?

Press release, atau siaran pers, adalah tulisan resmi dari sebuah bisnis atau lembaga yang ditujukan ke redaksi media. Isinya kabar yang menurut kamu layak diberitakan. Bentuknya mirip berita: ada judul, paragraf pembuka yang menjawab pertanyaan pokok, kutipan dari orang yang berwenang, lalu kontak yang bisa dihubungi wartawan.

Pembaca pertama press release adalah redaksi, bukan pelanggan. Redaksi yang memutuskan apakah kabarmu ditayangkan, disunting dulu, atau tidak dimuat sama sekali. Karena itu press release ditulis dengan gaya jurnalistik: lugas, berbasis fakta, dan tanpa bahasa jualan.

Bedanya dengan iklan dan konten media sosial

Iklan kamu tulis sendiri, kamu bayar tempatnya, dan isinya tampil persis seperti yang kamu mau. Unggahan di media sosial juga sepenuhnya di tanganmu, tapi yang melihat kebanyakan orang yang sudah mengikuti akunmu.

Press release bekerja dengan cara lain: kamu menyerahkan kabar ke pihak ketiga, yaitu media, dan media punya standar sendiri. Kalau tayang, kabarmu muncul sebagai artikel di situs media itu, bukan di akunmu sendiri. Karena itu, press release cocok untuk kabar yang ingin kamu catat secara resmi dan bisa dirujuk orang lain, misalnya calon mitra yang sedang mencari tahu tentang bisnismu.

Konsekuensinya, kalimat seperti "produk terbaik dengan harga termurah" tidak cocok di press release. Redaksi biasanya memotong kalimat semacam itu, atau malah menolak naskahnya.

Kapan bisnismu butuh press release?

Cara mengukurnya cukup sederhana. Coba tanya diri sendiri: kalau kabar ini dibaca orang yang belum kenal bisnismu, apakah ada informasi baru buat mereka? Kalau jawabannya ya, kabarmu punya peluang.

Beberapa momen yang sering layak dirilis:

  • Hasil riset atau survei. Data yang kamu kumpulkan sendiri, misalnya kebiasaan belanja pelanggan di kotamu, sering menarik karena belum ada di tempat lain.
  • Pencapaian. Penghargaan, sertifikasi, atau angka pertumbuhan yang bisa kamu buktikan.
  • Kemitraan. Kerja sama baru dengan perusahaan, komunitas, atau lembaga.
  • Pendanaan. Investasi baru yang sudah resmi dan boleh diumumkan.
  • Opini pakar. Pendapat pemilik atau ahli di bisnismu tentang isu yang sedang ramai di bidangmu.
  • Rebranding. Nama, logo, atau arah bisnis yang berubah, beserta alasannya.
  • Pergantian manajemen. Direktur atau pimpinan baru.
  • Kisah inspiratif. Perjalanan bisnis yang punya sisi manusiawi, misalnya usaha rumahan yang mulai mempekerjakan warga sekitar.
  • Klarifikasi isu. Penjelasan resmi saat beredar kabar yang keliru tentang bisnismu.

Kabar yang sudah lewat lama biasanya kurang menarik. Kalau bisa, siapkan press release sebelum atau tepat saat kejadiannya berlangsung.

Kapan sebaiknya menunda?

Ada juga kabar yang lebih pas disampaikan lewat cara lain. Diskon akhir pekan, menu baru yang tidak punya cerita di baliknya, atau ajakan membeli lebih cocok dijadikan iklan atau unggahan media sosial.

Tunda juga kalau kabarnya belum pasti. Kemitraan yang belum ditandatangani atau angka yang belum bisa kamu buktikan sebaiknya ditahan dulu. Sekali tayang, artikel di media sulit ditarik, dan klarifikasi belakangan lebih repot daripada menunggu seminggu.

Kirim sendiri atau lewat jasa?

Kamu bisa mengirim press release langsung ke alamat redaksi media. Caranya gratis, tapi kamu perlu mencari kontak redaksi yang tepat, menyesuaikan naskah, lalu menunggu tanpa kepastian. Redaksi menerima banyak kiriman setiap hari, jadi naskahmu bisa saja tidak dimuat.

Pilihan lain adalah memakai jasa penulisan dan distribusi. Penulis menyusun naskah dengan gaya jurnalistik, lalu naskah dikirim ke media yang kamu pilih, dan jalur ini berbayar. Redaksi tetap berhak menyunting atau menolak, jadi tanyakan dulu ke penyedia jasa apa yang terjadi kalau naskahmu ditolak.

Kabar yang jelas dan bisa dibuktikan punya peluang lebih besar daripada kabar yang dibungkus kalimat promosi.

Mulai dari mana?

Coba tulis kabarmu dalam satu kalimat: siapa melakukan apa, kapan, dan kenapa itu penting buat orang lain. Kalau kalimat itu sudah jelas, kamu sudah punya bahan utama press release.

Punya kabar tapi masih ragu layak dirilis atau tidak? Ceritakan kabarmu lewat WhatsApp Partnermedia di wa.me/6287886446411 (Senin–Jumat, 09.00–18.00). Kalau hanya butuh naskahnya, ada paket Naskah Saja seharga Rp150 rb.